Pesan Kesetaraan Gender di Film Mulan 2020

Pesan Kesetaraan Gender di Film Mulan 2020

Pesan Kesetaraan Gender di Film Mulan–Sebelum membaca artikel ini, saya hanya ingin memperingatkan bahwa konten di dalamnya mengandung bocoran cerita (spoiler story).

Film Mulan akhirnya resmi dirilis melalui platform digital Disney+ pada 4 September 2020. Sayang sekali, film ini gagal dirilis di bioskop karena pandemi COVID-19. Film ini mengalami penundaan rilis yang awalnya diagendakan pada 27 Maret 2020. Namun pecinta film Disney dan genre laga-perang tetap bisa menikmatinya secara digital.

Film besutan Niki Caro dengan skenario karya Elizabeth Martin, Lauren Hynek, Rick Jaffa dan Amanda Silver ini bercerita tentang sosok perempuan bernama Hua Mulan (Liu Yifei), putri seorang veteran prajurit perang kekaisaran Tiongkok bernama Hua Zhou (Tzi Ma). Ia memiliki kemampuan chi yang besar. Namun karena dia adalah seorang perempuan, ia terpaksa harus memendam kemampuannya itu.

Pada film tersebut diceritakan, tradisi masyarakat Tiongkok pada waktu itu menganggap bahwa perempuan tak pantas memiliki kemampuan bela diri yang hebat seperti laki-laki. Perempuan juga tak layak menjadi ksatria. Hal itu hanya boleh dimiliki seorang laki-laki.

Perempuan, kata ibunya Mulan, Hua Li (Rosalind Chao) itu memiliki jalan kehormatan menjadi seorang istri bagi suaminya kelak. Maka dari itu, Mulan harus mengubur chi-nya dan bertingkah laku sebagai perempuan pada umumnya. Dengan begitu, kehormatan keluarganya tidak rusak.

Hingga akhirnya, setelah ia beranjak gadis, Mulan akan dijodohkan oleh seorang ibu-ibu pencari jodoh. Ia pun bersolek dengan gaya khas perempuan Tiongkok pada zaman itu: berbedak tebal, pakaian khas Tiongkok, bersanggul, dll.

film mulan
Foto: Adi Permana

“Diam, tenang, gemulai, anggun, seimbang, sabar. Itulah kualitas yang kami lihat dalam istri yang baik. Itu adalah kualitas yang kami lihat dalam diri mulan. Saat istri melayani suaminya, dia harus tenang,” Kata si ibu-ibu pencari jodoh itu.

Baca juga: 10 Rekomendasi Film Drama Terbaik Sepanjang Masa

Namun gara-gara seekor laba-laba, rencana penjodohannya itu gagal total. Hal itu menjadi aib bagi keluarga Hua karena dianggap tak bisa mendidik dan membesarkan anak perempuannya.

film mulan review

Setelah kejadian itu, lalu datang pasukan atau para ksatria kekasiaran Tiongkok ke desa tempat Mulan tinggal. Mereka membawa pesan kaisar bahwa negeri Tiongkok tengah diserang oleh pasukan bangsa Rouhun yang dipimpin Bori Khan untuk membalas dendam kematian ayahnya. Sehingga setiap keluarga di seluruh kekaisaran Tiongkok wajib mengirimkan satu orang lelaki untuk ikut berperang.

Karena perintah itu, ayahnya memutuskan untuk ikut berperang meskipun kondisi kakinya cacat. Besok paginya, justru Mulanlah yang pergi. Ia diam-diam mencuri baju perang, pedang, dan kuda milik ayahnya untuk ikut berperang. Ia menyamar sebagai laki-laki agar bisa bergabung dengan pasukan.

Banyak tantangan dan rintangan dilalui selama di lokasi pelatihan. Ia diterpa menjadi seorang prajurit tangguh. Namun rekan-rekannya masih belum sadar bahwa Mulan–yang menyamar sebagai Hua Jun, itu adalah seorang perempuan.

Baca Juga: Perlawanan Pribumi dan Kisah Cinta Milea

Namun akhirnya identitas Mulan diketahui saat dirinya bertemu dengan penyihir musuh bernama Bong Li (diperankan oleh Xiang Liang). Penyihir itu bisa merasakan kekuatan chi. Mulan sempat berduel. Namun karena dia tidak jujur dan memendam chi-nya, ia pun kalah.

review film mulan

Akan tetapi, burung phoenix menyelamatkan Mulan. Saat bangun ia melihat pedangnya dan berkaca diri. Ia sadar bahwa dirinya tak layak menjadi seorang ksatria karena telah berbohong. Sebab seorang ksatria itu harus bersumpah pada tiga: Setia (Loyal), Berani (Brave), dan Jujur (True). Ketiga slogan itu ada pada pedang yang dipegang Mulan.

review film mulan

Akhirnya ia seperti hidup kembali. Mulan kembali ke pasukannya untuk melawan bangsa Rouhun yang menyerang kastil di jalur sutera. Ia berhasil melawan musuh, namun identitasnya terbongkar dan komandan Tung (Donnie Yen), mengusirnya secara tak terhormat karena dianggap telah berbohong.

review film mulan

Mulan akhirnya lari ke sebuah bukit. Ia menangis. Padahal niatnya sangatlah mulia untuk membela negerinya tercinta dengan kemampuannya. Namun karena budaya patriarki yang sangat kuat di masyarakat, akhirnya ia diusir secara tidak terhormat. Namun saat itu dia kembali bertemu si penyihir. Mulan diajak untuk bersekongkol karena penyihir itu merasa senasib dengan Mulan. Oh iya, penyihir itu juga seorang perempuan asal Tiongkok yang dikucilkan karena kemampuannya.

Namun Mulan menolak sampai akhirnya ia nekad kembali ke benteng pertahanan kekaisaran Tiongkok. Ia bertemu Komandan Tung dan menceritakan kejadian yang dialami, lalu menjelaskan rencana jahat musuh dari pertemuannya dengan si penyihir.

review film mulan

Karena ketulusan, kejujuran, dan keberaniannya, Mulan akhirnya diberi kepercayaan untuk memimpin pasukan ke pusat kekaisaran Tiongkok untuk menyelamatkan sang kaisar. Singkat cerita, Mulan akhirnya bisa mengalahkan musuh dan menyelamatkan kaisar. Ia pun diangkat sebagai ksatria khusus pengawal kekaisaran.

Mulan sebagai seorang perempuan yang dulunya tidak memiliki tempat di masyarakat akhirnya mendapat pengakuan dari seluruh kekaisaran Tiongkok. Loyalitas, keberanian, dan kejujurannya sebagaimana slogan seorang ksatria, akhirnya diakui oleh sang Kaisar langsung. Mulan telah menyelamatkan dinasti dan mempunyai hutang nyawa bagi kaisar.

review film mulan

Pesan Gender

Dari sinopsis singkat tersebut, sangat tergambar jelas bahwa film ini ingin mengangkat perspektif lain tentang perempuan. Budaya patriarki yang menganggap perempuan itu urusannya hanya dapur, kasur, dan sumur, ingin coba dihilangkan.

Mulan merepresentasikan bahwa perempuan itu bisa sejajar dengan laki-laki. Karena memimpin itu ukurannya itu bukan secara biologis, melainkan kualitas. Saya sangat setuju dengan konsep ini karena memberikan keadilan dan porsi yang sama kepada setiap orang untuk menjadi pemimpin dan mengaktualisasikan dirinya.

Islam sendiri tidak membedakan antara satu manusia dengan manusia lainnya. Yang menjadi pembeda adalah kualitas diri, kualitas iman. Bahkan jika melihat sejarah rakyat Aceh, Kota Serambi Mekah itu pun pernah dipimpin oleh perempuan secara terus menerus selama beberapa dekade.

Akan tetapi memang masyarakat kita masih banyak yang kaku atas isu kesetaraan gender. Mungkin kalian pernah mendengar ungkapan begini, “Kalau memang ingin kesetaraan gender, ya sana perempuan kerja cari nafkah, laki-laki yang ngurus rumah.”

Ya itu bukanlah kesetaraan gender. Itu namanya laki-lakinya tidak mau bertanggung jawab dan berusaha. Jadi, konsep keseteraan gender ini masih banyak yang disalahartikan. Padahal sebetulnya, maksud tujuannya adalah memberikan porsi yang sama kepada perempuan untuk bisa berperan di masyarakat.

Terlepas dari pesan keseteraan gender, juga boikot yang ramai diberitakan, film Mulan ini sangat direkomendasikan untuk ditonton. Namun jangan terlalu berekspektasi terlalu tinggi, ya. Karena meskipun ini film laga-perang, sangat sedikit adegan perang dan perkelahiannya. Tidak seperti saat kalian nonton film IP Man, misalnya, yang banyak sekali adegan pamer jurus dan aksi.

Selain itu, film ini juga kurang dari sisi pendalaman karakternya. Film yang diproduksi Walt Disney Picture ini juga kurang greget konfliknya. Jadi saya merasa biasa-biasa saja meskipun ada adegan yang sedih-mengharukan. Mungkin karena film Disney ya, yang notabene untuk anak-anak, sehingga filmnya dibuat agar mudah dicerna dan tak terlalu banyak adegan bunuh-bunuhan.

Sekian, semoga tulisannya bermanfaat.

 

Adi Permana
Latest posts by Adi Permana (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *