IT Chapter 2 : Badut Menyebalkan itu Bernama Pennywise

IT Chapter 2 : Badut Menyebalkan itu Bernama Pennywise

Blog Adi Permana –

Peringatan, konten ini berisi spoiler dari film IT Chapter II.

The Loser Club adalah sebutan bagi sekelompok bocah komplek pecundang di Kota Derry, Amerika Serikat. Pada musim panas 1989 lalu, mereka bersatu untuk melawan sesosok monster menyeramkan yang menyerupai badut. Namanya Pennywise atau “IT”. Dia kerap menghantui anak-anak dan memangsa mereka.

Anak-anak pecundang itu mengira perlawanan mereka berhasil. Namun setelah 27 tahun berlalu, badut itu ternyata bangkit lagi. “Coming Home” tulis Pennywise di sebuah dinding penyangga jembatan dengan menggunakan darah. Saat itu sedang ada kejadian pembunuhan dan mutilasi, Mike (Isalah Mustafa) yang memilih tetap tinggal di Kota Derry menyelidiki kasus tersebut karena dia merasa ada hal janggal.

Sadar akan kebangkitan si badut, ia pun menghubungi enam anggota The Loser lain yaitu Bill Denbrough (James McAvoy), Beverly (Jessica Chastain), Richard Tozier (Bill Hader), Eddie Kaspbrak (James Ranshone), Benjamin (Jay Ryan), dan Stanley Uris (Andy Bean) untuk kembali ke Derry dan melawan badut itu.

Kelima anggota yang sudah pada sukses dan mapan di kehidupan baru mereka, awalnya sangat kaget mendengar panggilan Mike. Tapi mereka terpaksa harus kembali karena terikat sumpah. Tapi, Stanley lebih memilih mengakhiri hidup di bak mandi dengan memotong urat nadinya sendiri daripada harus kembali ke kota tersebut. Dari sinilah permainan dimulai.

Film berbumbu reunian ini memang tak jauh dari yang sering kita rasakan di dunia nyata. Kalau sudah kumpul-kumpul, biasanya topik yang dibahas seputar kenangan masa lalu, kekonyolan, rahasia pribadi, dan kisah so sweet. Dalam film ini juga sama, salah satu cara melawan badut itu adalah mereka harus berpencar mencari koleksi kenangan mereka masing-masing untuk dijadikan “sesajen” dalam Ritual Churd untuk melawan Pennywise.

Bagi saya yang “pecundang” dalam urusan nonton film horor, IT Chapter II sungguh memacu adrenalin. Setiap kali bakal ada adegan horor, saya harus menahan nafas dan menyugesti diri sendiri untuk tetap tenang. Dan di film ini, sepertinya tingkat ketakutan saya sedikit berkurang karena tidak banyak teriak dan menggerutu atau menutup mata. Semua ini berkat membaca kisah KKN Desa Penari dan Sewu Dino. Tapi bisa jadi IT ke-2 ini memang bukanlah film horor yang diangkat dari kisah nyata, sehingga horor-horor yang ada agak kurang rasional.

Nah, itu sekaligus menjadi tips bagi kalian yang memang penakut: sering-seringlah baca cerita horor, atau menonton film horor. Bakal jadi lebih berani? Nggak juga, malah makin takut karena halusinasinya lebih menjadi-jadi haha. Tapi kalau menonton film horor tips dari saya biar tidak terlalu tegang adalah cobalah untuk tetap tenang dan berpikir logis. Trust me it works.

Untungnya lagi, nontonnya barengan sama teman-teman kantor.

Pengemasan Cerita yang Apik

Film yang diadopsi dari novel Stephen King itu menawarkan perlawan The Loser dengan Pennywise yang sarat akan horor disertai humor. Salah satu apresiasi saya untuk film ini adalah pada pengemasan ceritanya yang apik. Saya belum menonton IT Chapter I, tapi di film ini saya langsung paham dengan jalan ceritanya, meskipun harus adaptasi sedikit lama, dan bertanya ke teman di sebelah. Sinematografinya pun sungguh rapi saat scene menyatukan masa sekarang dan masa lalu para The Loser, ketika mereka harus mencari kepingan masa lalu mereka.

Meskipun banyak adegan humor, tetapi tetap tak mengurangi sisi horor dan ketagangannya. Misalnya ketika Eddie masuk ke klinik, bertemu mummy berlidah panjang dan mencekiknya sampai muncrat darah hitam. Padahal itu hanya halusinasi dan sebetulnya dia mencekik botol cat. Dia sedang dipermainkan Pennywise.

Menurut beberapa ulasan yang saya baca, cerita di Chapter ke-II ini lebih kompleks. Hal ini memang wajar karena diihat dari durasinya pun hampir 3 jam. Belum lagi beberapa scene harus ada flashback untuk membuat cerita menjadi utuh. Film ini pun banyak sekali menyisipkan tentang kehidupan di kala sudah dewasa, percintaan, pertemanan, dan thriller.

Jadi, sangat cocok buat kalian yang ingin nonton film horor, tapi tetap bisa tertawa terbahak-bahak, romantisnya cinta segitiga antara Beverly, Ben, Bill memberikan applause tentang persahabatan para The Loser.

Adi Permana
Latest posts by Adi Permana (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *