KKN di Desa Penari dan Pesan Menjaga Etika

KKN di Desa Penari dan Pesan Menjaga Etika

Blog Adi Permana —

Akhir-akhir ini jagad raya dunia maya tengah ramai tentang viralnya sebuah cerita horor kegiatan Kuliah Kerjanya Nyata (KKN) mahasiswa di salah satu desa di Jawa Timur. Judul dari spooky story tersebut ialah KKN di Desa Penari.

Begitu mendengar nama judulnya saja, saya langsung begitu penasaran dan mencari-cari sumber viralnya cerita tersebut. Ternyata itu berangkat dari sebuah thread dari akun Twitter @simpleM81378523 (simple_man). Bagi anak Twitter, pasti sudah familiar ‘kan dengan istilah thread itu apa?

Thread tentang cerita KKN di Desa Penari tersebut ia buat pada Juni 2019 lalu. Namun viralnya memang baru akhir-akhir ini. Karena sifatnya thread, tentu saja, ceritanya ditulis tidak dalam satu hari. Bahkan, sampai ada ratusan thread mengenai cerita tersebut. Jika kalian kesulitan scroll dan melihat thread aslinya, berikut ini link yang bisa diakses.

https://bacautas.com/1143116541480726531

Sebelum mengawali ceritanya, pemilik akun membuat sebuah disclaimer sebagai berikut:

“Sebelum gw memulai semuanya. Gw sedikit mau menyampaikan beberapa hal. Sebelumnya, penulis tidak mendapat izin untuk memosting cerita ini dari yang empunya cerita, karena beliau memiliki ketakutan sendiri pada beberapa hal, yang meliputi kampus, dan desa tempat KKN diadakan. Tetapi, karena penulis berpikir bahwa cerita ini memiliki banyak pelajaran yang mungkin bisa dipetik terlepas dari pengalaman sang pemilik cerita akhirnya, kami sepakat, bahwa semua yang berhubungan dengan cerita ini meliputi nama kampus, fakultas, desa, dan latar cerita, akan sangat dirahasiakan,” kata pemilik akun.

Cerita yang ditulis simple_man ini menarik karena saya jadi teringat kisah beberapa teman saat melaksanakan KKN waktu kuliah dulu. Banyak mengalami kisah horor, meskipun tak se-horor KKN di Desa Penari sampai meregang nyawa. Ditambah lagi, cerita KKN itu biasanya juga selalu berkesan karena selama sebulan tinggal di tempat asing, posisi kita sebagai tamu, dan terkadang memang lokasinya di desa-desa terpencil.

Sekilas tentang KKN Desa Penari

Secara singkat, cerita horor tersebut berkisah tentang 6 orang mahasiswa bernama Widya, Ayu, Nur, Bima, Anto, dan Wahyu, melaksanakan kegiatan KKN di sebuah desa bernama Penari. Desanya sangat pelosok, dikelilingi hutan lebat, aksesnya hanya bisa ditempuh dengan mengendarai motor saja.

Rumah-rumah penduduk mayoritas adalah semi permanen, dengan ketersediaan listrik hanya pakai genset. Lokasi yang sangat cocok untuk kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Namun, ternyata desa tersebut memiliki rahasia mistis yang dirahasiakan. Rahasia tersebut yaitu mengenai mahluk ghaib bernama Badarawuhi, jin yang diceritakan sebagai penari. Selain Badarawuhi, di lokasi tersebut juga banyak “lelemut” lain yang kerap mengganggu para mahasiswa. Beragam kisah mistis diceritakan Simple_Man sampai pada puncaknya, dua orang mahasiswa KKN tersebut yaitu Ayu dan Bima sukmanya disesatkan oleh jin tersebut karena telah melanggar pantangan di desa tersebut. Sementara satu mahasiswi lainnya, Widya (yang diincar oleh Badarawuhi) juga disesatkan suka dan raganya, namun bisa diselamatkan oleh Mbah Buyut. Tapi, sukma Ayu dan Bima tidak bisa dikembalikan. Keduanya akhirnya meregang nyawa setelah tiga bulan di rawat di rumah masing-masing.

Penulis memang tidak terlalu detail menggambarkan kisah tersebut. Namun bagi saya, isi dan pesan yang ingin ia sampaikan sudah bisa tersampaikan. Terutama tentang bagaimana kita sebagai tamu harus menghormati dan bertatakrama di manapun kita berada. “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”

Secara teori, penulis sudah menerapkan konsep teori Freytag Pyramid dalam cerita KKN di Desa Penari, yaitu bagaimana plot cerita terjadi. Diawali dengan exposition, rising conflict (complication), climaks story, kemudian setelahnya ada reserval dan denouement. Tapi memang kritik saya adalah pada detail-detail waktu kejadian, dan juga penokohan pada sosok keenam mahasiswa tersebut yang tidak dideskripsikan dengan baik. Mungkin penulis memang hanya ingin fokus pada cerita. Tidak masalah.

Review

Karena saya memang orangnya sedikit penakut meskipun rasional, jadinya, cerita horor apapun menurut saya adalah seram dan selalu membuat bulu pundak merinding. Makanya saya meminta bantuan dari salah satu teman untuk me-review ceritanya tersebut.

Menurut teman saya ini, Eka, ceritanya seru, fresh, dan original. Meskipun latar waktunya pada cerita tersebut terjadi pada 2009 silam.

Tapi, bagi perempuan bernama lengkap Eka Nathiqo itu, banyak hal mengganggu dalam cerita tersebut terutama urusan typo, kesalahan tanda baca, dan kurang tepat dalam translate dari Bahasa Jawa ke Bahasa Indonesia.

“Yu, aku kepingin ngomong, wong loro ae, isok kan” (Yu, aku ingin ngomong, sebentar, bisa kan?)

Itu harusnya “berdua aja” bukan “bisa ‘kan”. Kata Eka.

Dia juga merasakan bahwa cerita KKN tersebut sukses menciptakan theater of mind dalam kepalanya. Misalnya dalam bagian ini. “Nur tiba-tiba tersadar, bahwa, suara riuh binatang malam tidak lagi terdengar, berganti dengan suara sunyi yang memekik membuat telinga Nur menjerit dalam ngeri,” tulis Simple Man.

“Ini kebayang banget dong ngerinya. Aku lebih suka ada suara-suara ribut hewan malem, kucing atau anjing kek, jangkrik minimal. Kalau sunyi rasanya mencekam banget,” timpal Eka menjelaskan bagian tersebut.

Terus sebenarnya ceritanya nggak begitu serem, tapi baguusss. Soalnya ada pesan moralnya. Setiap apa yang kita perbuat, pasti ada akibatnya. Action reaction kalau menurut hukum Newton mah. Kata Eka, menambahkan.

Menurutnya, penggambaran desa dalam cerita tersebut sangat bagus, tidak seperti cerita-cerita horor lainnya. Banyak kejadian yang unik dan menarik, misalnya tentang cerita disuguhi makanan dari mahluk ghaib, biasanya berubah jadi belatung, tapi ini menjadi kepala monyet. Unik.

“Terus penulisnya juga asik banget ceritanya. Jojong wae cerita, nggak ada selipan-selipan yang nyuruh kita percaya sama tulisannya. Dibayar juga kagak. Wkakaka. Intinya menarik sih,” ujarnya.

Bagaimana kalau dijadikan Film?

Saya berharap, karena cerita KKN di Desa Penari ini sudah sangat viral dan banyak respon positif dari netizen, tak ada salahnya untuk dijadikan buku dengan alur cerita yang lebih detail dan penggambaran suasananya lebih akurat lagi. Syukur-syukur dijadikan film juga.

Nah selain Eka, ada beberapa teman saya yang ditanya pendapat mereka tentang, bagaimana jika cerita KKN tersebut dijadikan film. Semuanya berpendapat sangat setuju. Karena memang belum pernah ada film horor berkonsep KKN. Tapi saya jadi sedikit khawatir juga, nanti kegiatan KKN oleh mahasiswa tidak benar-benar di desa dong, malah jadinya pada di perkotaan? Hehe.

Sekian review kali ini.

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *