Menjajal Trek Lari Gasibu di Malam Hari 

Menjajal Trek Lari Gasibu di Malam Hari 

Menjajal Trek Lari Gasibu – Sejak direnovasi beberapa tahun lalu, wajah Lapangan Gasibu berubah sangat drastis. Dulunya, trek lari di tempat tersebut kurang begitu nyaman sebab permukaan lintasan lari dari tanah merah atau gravel seringkali keras, licin, kotor, dan sangat kurang terawat. Sekarang, hal itu sudah tak nampak lagi. Kita bisa menikmati Gasibu yang lebih bersih, hijau, tertata rapi, dan memiliki trek lari yang nyaman. Meskipun sebenarnya agak keras karena dari tembok. 

Selain trek lari yang lebih nyaman, beberapa fasilitas di sana juga turut diperbaharui. Kini terdapat perpustakaan, taman, masjid, toilet, dan fasilitas penunjang lainnya. Tentunya hal tersebut sangat berpengaruh pada antusiasme pengunjung yang datang ke sana. Ditambah lagi, lokasinya yang strategis berada di tengah kota dan percis di depan Gedung Sate, membuat Gasibu menjadi lokasi favorit bagi masyarakat Bandung untuk olahraga, jogging, atau sekedar jalan kaki. 

Berbicara tentang lari, saya termasuk orang yang jarang lari di malam hari. Sepulang kerja, kalau tidak kursus atau lembur, inginnya langsung pulang ke kosan lalu rebahan di tempat tidur sambil scrolling social media. Sebuah rutinitas anak zaman now banget. 

Saya lebih suka lari di pagi hari karena udaranya masih bersih dan membuat tubuh semakin fresh untuk menjalankan aktivitas seharian penuh. Namun pada Minggu (8/12) lalu, saya mencoba menjajal trek lari Gasibu di malam hari. 

Bersama teman, kami janjian sehabis maghrib untuk tiba di sana. Suasana Gasibu waktu itu cukup ramai: ada yang jogging, jalan kaki, bermain badminton, atau bahkan sekedar nongkrong di tamannya. Oh iya, jika hendak ke Gasibu, kalian bisa memarkir kendaraan di Jalan Majapahit, percis di samping Gasibu. Itu lho yang suka banyak pedagang kaki lima. Biaya parkirnya Rp 3.000. Kalau beruntung bisa gratis hehe. 

Karena sehari sebelumnya sudah lari 10 kilometer, malam itu saya hanya sekedar ingin jogging ringan dengan target jarak yaitu 5 kilometer. Namun, baru saja mulai lari, sekitar jarak 1 kilometer, hujan gerimis pun turun. Akhirnya kami menepi dulu sampai agak sedikit reda. 

Tak lama berselang, hujan sudah mulai reda. Tapi sayangnya, begitu satu putaran, hujannya kembali turun lagi, kali ini lebih deras sehingga trek lari pun menjadi basa karena genangan air. Kami pun kembali harus menepi.  

Waktu menunjukkan sekitar pukul 20.00 WIB lebih. Kami masih menunggu hujan reda, karena harus memenuhi target 5 kilometer. Akhirnya sekitar pukul 20.30 WIB, hujan tak lagi turun. Saya dan teman memutuskan untuk kembali melanjutkan lari. Target kami pun tercapai meskipun sedikit terganggu dengan genangan air.  

trek lari gasibu
Malam itu, ternyata ada beberapa orang yang berlari juga. Mungkin sama seperti kami yang harus menyelesaikan target tertentu. (Foto: Adi Permana)

Mungkin karena sudah diguyur hujan, udara waktu itu tidak begitu sesak dari polusi. Maklum, Gasibu berada di tengah kota, dekat dengan jalan raya, sehingga udaranya tidak begitu segar seperti halnya di Sabuga Running Track (tulisan tentang Sabuga akan dibuat tersendiri). 

Trek lari di Gasibu memang sangat cocok di segala kondisi cuaca. Karena terbuat dari tembok yang dibuat kasar lapisan atasnya, sehingga meskipun sudah diguyur hujan tidak membuat trek licin dan sepatu kotor, ya kalau basah sedikit wajarlah. Tapi jika ingin lari di sini, saya sarankan memilih sepatu yang lebih empuk, karena treknya cukup keras.

Kami menyudahi jogging dengan sesi pendinginan dan foto-foto. Eit, jangan salah. Dokumentasi itu penting lho, kalau tidak, foto di blog ini mungkin bakal nyolong dari internet hehe. 

 

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *