Mr. Guan Door Coffee Pindah

Mr. Guan Door Coffee Pindah

Mr. Guan Door Coffee Pindah – Cuaca Bandung tiba-tiba berubah drastis dari awalnya cerah menjadi mendung. Awan sudah menggelayut dan gelap, rintik-rintik air sudah mulai turun tatkala motor baru saja saya keluarkan dari kandangnya. Saya bergegas mengambil jas hujan selagi mesin dinyalakan–orang Sunda menyebutnya ngahaneutan motor­­—karena saya tahu siang itu bakal hujan.

Hati kecil berbicara, “Sudahlah, urungkan saja janjinya. Ini mau ujan, mending di kosan saja, bisa seduh mie, atau ngeteh. Kan lebih enak.”

Tapi saya tak mau mengulang kebiasan buruk “pehape” ke orang. Akhirnya saya memenuhi janji untuk bertemu seorang teman di café bernama Mr. Guan Door Coffee di Jalan Natura No. 47, Bandung. Kebetulan, teman satu kantor ini sudah mengajak sehari sebelumnya. Saya tidak enak, apalagi dia bilang tujuan datang ke café tersebut adalah untuk mengerjakan tugas kuliah.

Perkenalkan, dia adalah Citra. Nama lengkapnya Vera Citra Utami. Saya pernah menulis cerita tentangnya di blog ini.

Baca: Jurnal #3 Kuliah dan Bekerja

 

Mr-Guan-Door-Pindah-Bandung-Adi-Permana
Vera dan laptopnya. (Foto: Adi Permana)

Sebetulnya, ide nongkrong di café itu adalah ide dari saya, karena ternyata menulis itu butuh ruangan dan suasana baru. Bosan jika harus di kosan terus dengan pemandangan itu-itu saja, seakan-akan ide di kepala terhambat tembok beton kosan. Kasusnya ternyata sama dengan Vera, dia juga tak bisa mengerjakan tugas di rumahnya karena sering tidak fokus dan banyak “iklan”.

Tentang Mr. Guan Door Coffee

Saya tiba lebih dahulu di lokasi. Baru selesai memarkir motor, hujan deras langsung turun. Tapi saya tak khawatir pada Vera, karena dia pakai mobil.

Alasan kami memilih Mr. Guan Door Coffee adalah berdasarkan rekomendasi dari teman, yang juga seorang blogger. Dia pernah menulis beberapa tempat ngopi di Bandung yang cocok untuk mengerjakan tugas. Salah satunya adalah Mr. Guan Door ini. Menurutnya, tempat ini sangatlah nyaman, tidak berisik, luas, ada buku-buku, dan bernuansa vintage karena tempatnya bekas rumah Belanda. Saya pun semakin tertarik ke sana setelah melihat foto-foto dan review di internet.

Namun, pemandangan aneh terasa tatkala saya tiba di halaman depan café tersebut. “Lho, kok tempatnya beda dengan yang ada di foto-foto, dan ulasan teman saya?”.

mr-guan-door-pindah
Suasana cafe saat pertamakali masuk. (Foto: Adi Permana)

Kok Mr. Guan Door Coffee yang ini lebih kecil, cat depannya berwarna putih dari yang asalnya hijau, tidak ada parkiran, dan desain bangunannya berbeda, halaman depannya juga beda, dan banyak perbedaan lainnya. Hmmm

 

mr-guan-door-pindah
Pintu masuk. Ikonik karena berarsitektur Belanda. (Foto: Adi Permana)

 

 

mr-guan-door-pindah
Kondisi parkiran. Ini pun harus melewati trotoar terlebih dahulu. (Foto: Adi Permana)

Takut salah alamat, saya memastikan lagi untuk mengecek dengan Google Maps. Betul kok ini tempatnya. Di kolom review tidak ada ulasan lain-lain dari netizen, misalnya, café-nya pindah, dirombak, atau apapun itu yang bisa menjawab pertanyaan saya.

Saya hubungi Vera, lalu saya tawarkan untuk pindah ke tempat lain. Namun karena alasan hujan lebat, akhirnya dia tetap ke Mr. Guan Door Coffee. “Kalau ke tempat lain, kasihan kamu, ‘kan hujan,” begitu balasannya. Wah tumben dia baik hehe.

Vera datang sedikit telat karena jalanan macet. Mungkin karena banyak acara wisuda dan hajatan pernikahan ya. Tapi memang Bandung selalu begitu kalau weekend, makanya pertimbangkan kembali kalau mau keluar rumah.

Akhirnya saya memesan kopi seduh V60 dan pisang goreng. Harganya sedikit kurang bersahabat sih menurut saya. Ya, untuk ukuran café kecil seperti ini, harga yang ditawarkan terlalu mahal. Makanya siang itu, pengunjung juga tak terlalu banyak. Atau bisa jadi karena lokasinya baru, jadi belum banyak orang yang tahu.

Saat memesan saya tanya ke pegawainya, “Kang lokasinya pindah?” kata saya.

Lalu dia jawab, “Iya kang, kita pindah. Tapi di sini lebih nyaman jadi kalau yang merokok bisa duduk di luar tanpa kehujanan,” jawabnya.

Oh, yasudahlah. Mau bagaimana lagi, pesanan tetap jadi dipesan. Mau mencari tempat lain bingung karena hujan sangat deras.

Sebagai seorang netizen, menurut saya, harusnya café tersebut menginformasikan kepada para pelanggannya bahwa mereka pindah. Dengan begitu kita bisa tahu lokasi terbaru, kondisi parkiran, luas tempat, dll.

Review Tempat Mr. Guan Door Baru

Jika boleh jujur, kesan saya kurang puas dengan Mr. Guan Door yang baru ini. Meskipun saya belum pernah ke tempat sebelumnya, tapi jika dilihat dari foto-foto di internet, rasanya tempat baru ini sangat jauh berbeda. Mulai dari luasnya, furniture di dalamnya, dan parkiran. Vera pun terpaksa harus parkir di bahu jalan karena memang tak ada lahan parkir.

Lokasi cafe sebelumnya. (Foto: pegipegi.com)
mr-guan-door-pindah
Suasana cafe saat pertamakali masuk. (Foto: Adi Permana)
Suasana di dalam cafe di tempat sebelumnya. (Foto: t-aest.com)
Suasana di lokasi terbaru. (Foto: Adi Permana)

 

Tapi kalau mengulas makanan dan minumannya, menurut saya kopinya enak. Tergantung selera sih, kita bisa meminta sesuai keinginan. Misalnya, saya kurang suka kopi manual brew yang terlalu asam. Harga kopinya relatif lebih mahal. Entah mungkin karena saya yang kere kali ya hehe.

Kopi dan pisang goreng manis. (Foto: Adi Permana)

 

Pesanan saya:

Kopi Manual Brew V60: Rp 26.000

Pisang goreng manis: Rp 20.000

 

Setelah Vera datang, kami pun pindah ke meja di bagian dalam karena butuh colokan juga tempat yang nyaman untuk menaruh laptop. Ternyata tempat café yang baru itu seperti rumah. Bagian kasir dan meja-meja pengunjung adalah ruangan tamu yang didesain ulang. Bahkan catnyapun masih baru.

Suasana di dalam café lebih kurang nyaman lagi karena ketika kami ngobrol, sangat kedengaran ke pengunjung lain. Sebabnya tentu saja karena ruangan yang kecil.

Tempatnya kurang representatif untuk diskusi. (Foto: Adi Permana)

Adapun dapur ada di bagian belakang. Di dekat dapur ada toilet juga mushola. Jika ke bagian belakang lagi, kita akan melewati seperti bagian tengah rumah. Sementara desain bangunannya adalah Belanda. Jadi memang tempat Mr. Guan Door Coffee yang baru ini adalah rumah yang disulap jadi café. Bahkan di dekat pintu masuk tertulis bahwa bangunan tersebut adalah milik PT. KAI.

Saya dan Vera tak berkomentar terlalu banyak soal tempat dan suasa. Toh hujan di luar juga belum reda-reda padahal hari sudah hampir maghrib. Sementara kami begitu hanyut dengan laptop masing-masing dan terus mengetik.

 

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *