Gunung Putri yang Kini Tak Perawan Lagi

Gunung Putri yang Kini Tak Perawan Lagi

Gunung Putri yang Kini Tak Perawan Lagi – Suara gitar bernada minor memecah keheningan malam di atas sebuah puncak gunung di sebelah utara Kota Bandung. Semakin malam, orang-orang semakin berisik di sekitar tenda yang kami dirikan.

Penasaran dengan suasana bising bak di pasar, saya mengintip keluar dari atas hammock yang tertutup flysheet. Suhu ternyata sangat dingin, kabut yang cukup tebal menyamarkan penglihatan. Semakin malam, suasana semakin ramai. Tenda yang tadinya bisa dihitung jari, kini makin berserakan di depan-belakang-samping. Api unggun menyala, asapnya kemana-mana sampai mata jadi perih.

Pukul 22.57 WIB. Udara semakin lembab. Nyanyian makin keras mengusik ruang dengar. Genjringan gitar semakin riuh rendah. Dari mulai lagu pop, rock, folk hingga indie terus dinyanyikan dengan nada sekenanya. Yang penting nyanyi dan teriak, bodo amat dengan lingkungan sekitar; serasa gunung ini milik sendiri. Makin larut, orang-orang bukan malah surut.

Karena perut berbunyi, saya turun dari hammock. Menyalakan gas portabel, menyedu air panas lalu memasak indomu. Perut sudah terisi, namun mulut ternyata butuh nutrisi kopi. Salah satu kawan keluar tenda, dia nampaknya tak bisa tidur dengan suasana seperti ini. Kami ngopi bareng lalu berbincang menceritakan pengalaman pendakian masing-masing.

Bagi saya, gunung kini tak lagi asing, bukan pula tempat bercengkrama yang nyaman dengan alam semenjak sering “dieksploitasi” oleh film-film petualangan. Tadinya, saya dan tiga orang kawan berniat untuk tadabbur alam, menghindar dari kebisingan kota. Tapi sepertinya kami salah memilih hari dan lokasi.

Ya maklumlah, namanya juga para pekerja, hanya punya jatah libur Sabtu-Minggu. Itupun salah satu di antara kami, ada yang tetap bekerja agar ruang redaksi tetap ngebul oleh informasi.

Wartawan memang tak mengenal kata libur. Kerja (mungkin) sudah seperti hobi bagi mereka. Terpujilah wahai para wartawan pekerja keras, kehidupan kalian sangat berkelas, meskipun keringat kalian sering diperas. Kadang pas nerima gaji masih saja memelas, sampai di penghujung bulan ATM benar-benar dikuras. Jangan khawatir, besok-besok tinggal cari agenda yang ‘jelas’.

Lupakan soal kehidupan wartawan, saya bercerita lagi kepada kawan satu tenda. Suasana di Gunung Putri ini memutar memori saya ketika mendaki Papandayan dua tahun silam bersama rombongan anak kelas waktu kuliah. Waktu itu sedang libur agak panjang, orang-orang ternyata satu pemikiran dengan kami, berlibur ke gunung. Tiket masuknya pun tak semahal sekarang.

*Difotoin Aldi Agan

Di jalur pendakian ketika itu memang sangat ramai. Bahkan harus antre. Kekhawatiran tak kebagian tempat kemah benar-benar terjadi. Sampai kami harus merangsek ke lokasi yang jarang dipakai berkemah. Waktu itu, film pendakian “5 kilometer” sedang booming-boomingnya. Film itu memang benar-benar menghipnotis orang buat naik gunung, apalagi kalau sama Pevita Pearce yang pake g*tr*ng.

Tapi sebetulnya, kebisingan di gunung masih bisa ditolerir. Yang justru membuat kasian ialah jejak sampah. Sama seperti di Papandayan, pemandangan tidak mengenakan juga terlihat di Gunung Putri. Banyak banget sampah botol plastik yang isinya air kencing.

Mereka ini otaknya kacau. Dungu, kalau meminjam istilah Rocky Gerung. Ibarat pria hidung belang, mereka bisanya cuman menikmati saja, tapi tak pernah menjaga dan memelihara sesuatu yang telah Tuhan anugerahkan bagi manusia. Sadarkanlah mereka, mari kita doakan dengan bacaan Qulhu-Falaq-binnas dan Yasin 3x saat malam Jumat.

Sekian.
Bandung, 25 November 2018.

Baca: Demokrasi dan Suara Nyaring Rocky Gerung

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *