Lombok, Kota Seribu Masjid

Lombok, Kota Seribu Masjid

Lombok memang terkenal dengan sebutan Kota Seribu Masjid. Teman saya bilang, “Kalau ke Lombok, gak usah khawatir sulit nyari masjid buat salat.” Bangunan masjid di sini juga keren-keren, arsitekturnya kebanyakan berkiblat ke timur tengah, dengan kubah dan menara yang menjulang tinggi.

Tapi ada satu masjid yang cukup unik yang saya temui di sana. Masjid tersebut bernama Masjid Nurul Bilad yang berada di Pantai Kuta Mandalika, Lombok Selatan. Bagi saya ini pemandangan yang baru, sebab ada masjid megah berada di daerah wisata seperti “Kuta-nya Bali”.

Tampak luar Masjid Nurul Bilad di Pantai Kuta Mandalika, Lombok
Tampak luar Masjid Nurul Bilad di Pantai Kuta Mandalika, Lombok. Foto: Adi Permana

Pantai Kuta Mandalika ini menjadi salah satu tempat favorit buat wisatawan dari luar negeri untuk berselancar, berjemur, sambil menikmati birunya laut di sana. Namanya memang sama dengan pantai di Bali.

For your information, di daerah Pantai ini pula, rencananya akan dibangun sirkuit Moto GP oleh Pemerintah Indonesia.

Meskipun di tepi pantai, tapi masjid ini tetap sejuk dan membuat orang betah berlama-lama di dalamnya. Menurut saya yang awam, arsitektur masjid ini termasuk yang ramah lingkungan. Desainnya mirip dengan masjid di Kota Baru Parahyangan yang bagian depan (arah kiblatnya) dibiarkan terbuka. Sehingga angin bisa leluasa masuk.

Baca: Gunung Putri yang Kini Tak Perawan Lagi

Selain ramah lingkungan, masjid Nurul Bilad juga ramah terhadap disabilitas. Halaman masjid ini sangat luas, terdiri dari plaza utama, bangunan masjid, tempat wudhu, tempat parkir, bangunan serbaguna, taman budaya, alun-alun dengan jarak hanya 400 meter dari Pantai Kuta Mandalika.

Dilihat dari bentuknya, bangunan masjid berbentuk persegi dan kubah berbentuk segitiga. Menurut informasi yang saya dapatkan, desainnya sedikit mengadopsi dari bentuk rumah adat Sasak di Bayan yang melambangkan keharmonisan dan toleransi antar umat beragama.

Masjid Raya di Pantai Kita Mandalika Lombok
Suasa di dalam masjid. Sedikit sepi karena difoto setelah selesai salat Jumat. Foto: Adi Permana.

Jadi diharapkan Masjid Nurul Bilad dapat mempererat tali persaudaraan antar umat beragama karena gak hanya muslim saja, tetapi banyak para wisatawan yang non muslim datang ke daerah Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika dari hari ke hari.

Masjid Nurul Bilad mempunyai arti Cahaya bagi Negeri. Harapannya, mungkin dengan adanya masjid ini bisa menjadi salah satu masjid termegah dan menjadi ikon wisata religi di wilayah Mandalika (selain pantainya). Pembangunannya belum selesai, ketika saya ke sini masih ada beberapa bangunan yang sedang dikerjakan, termasuk menaranya. Pokoknya kerenlah.

Saya beruntung saat datang ke sana tepat di hari Jumat, jadi saya bisa melaksanakan salat Jumat di sana. Beberapa orang ada yang salat mengenakan sarung tenun dari suku Sasak, kopiah-nya pun ada yang memakai iket khas Lombok.

Kebetulan ketika itu Lombok sehabis diguncang gempa, khutbah yang disampaikan khotib pun berisi refleksi berkaitan dengan kejadian gempa Agustus 2018 lalu. Yang saya tangkap, pesan dakwahnya begitu menyentuh, meskipun disampaikan dengan nada penuh semangat.

Memang saat kejadian gempa besar tersebut, disusul oleh gempa susulan yang relatif kecil, membuat warga Lombok sangat trauma. Teman saya bahkan sampai mendirikan tenda di luar rumahnya. Selama seminggu dia menginap di tenda tersebut meskipun rumahnya tidak kenapa-kenapa.

Jujur saya ingin datang lagi ke Lombok dengan tujuan selain menikmati alam, juga sekaligus wisata religi. Saya merasakan keislaman masyarakat di sana sangatlah kuat. Meskipun begitu, mereka tetap saling menghargai perbedaan dengan orang yang berbeda agama. Setidaknya itu terlihat dari masjid megah yang berada di tengah-tengah tempat wisata penuh bule.

Asal kalian tahu, masuk ke tempat-tempat wisata di Lombok itu masih murah dan banyak hiden paradise beach, lho. Ah semoga!

Adi Permana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *